Semaraknya Seminar Nasional Pendidikan Matematika ETNOMATNESIA

Sabtu, 9 Desember 2017 Pendidikan Matematika UST menyelenggarakan Seminar Nasional Pendidikan Matematika Etnomatnesia di ruang Ki Sarino Mangun Pranoto. Pada seminar tersebut, tema yang diangkat adalah “Etnomatematika: Perspektif Matematika dari Budaya Indonesia”. Panitia menghadirkan empat pembicara, diantaranya: Prof. Turmudi, M.Sc., M. Ed., Ph.D (Guru Besar UPI), Prof. Dr. Marsigit, M.A. (Guru Besar UNY), Prof. Dr. Wahyudin, M.Pd. (Guru Besar UPI), dan Drs. Pardimin, Ph.D (Rektor UST Yogyakarta). Ki Dafid Slamet Setiana, M.Pd selaku ketua panitia menyampaikan bahwa seminar nasional pendidikan matematika etnomatnesia merupakan wujud nyata implementasi catur darma perguruan tinggi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, yaitu kebudayaan. Pada acara tersebut, ada 101 peserta nonpemakalah dan 187 artikel yang dipresentasikan yang berasal dari berbagai universitas dan institusi di Indonesia.

Pada kesempatan itu, Prof Turmudi menyampaikan mengenai belajar matematika dengan melibatkan unsur budaya. Memperhatikan konsep budaya yang menjadi suatu aset dan suatu alternatif dalam pembelajaran matematika, tampak bahwa budaya dapat dijadikan salah satu alternatif dalam pembelajaran matematika. Namun guru-guru masih perlu mempelajari sejumah budaya dan unsur-unsur budaya yang masih memerlukan sentuhan pelatihan dan membaca sumber-sumber yang kaya dengan unsur budaya yang di dalam nya terkandung unsur-unsur matematika. Sedangkan Prof Wahyudin menyampaikan bahwa matematika adalah mata pelajaran yang dipandang bebas dari nilai dan budaya sehingga terdapat pandangan bahwa pendidikan matematika tidak perlu mempertimbangkan keberagaman yang semakin berkembang dalam populasi peserta didik. Namun demikian, matematika telah sekaligus membentuk dan dibentuk oleh berbagai nilai dan keyakinan dari kelompok-kelompok manusia. Etnomatematika adalah hasil dari interaksi antara budaya dan matematika. Pemahaman tentang hubungan antara matematika dan budaya tampaknya dapat digunakan untuk meningkatkan keefektifan proses belajar belajar matematika di ruang kelas-ruang kelas multikultural. Ki Pardimin, Ph.D menyampaikan mengenai matematika tersembunyi yang bisa diuangkap dibalik kebudayaan di Yogyakarta. Terdapat unsur etnomatematika yang telah diterapkan dalam budaya masyarakat Yogyakarta. Garis lurus imajiner Yogyakarta masuk dalam unsur etnomatematika. Garis imajiner adalah garis khayal, atau garis maya, bukan garis sesungguhnya. Masjid Agung Yogyakarta memiliki aspek matematis yang teridentifikasi memiliki etnomatematika. Bangunan Candi, konsep matematika sebagai hasil aktivitas merancang bangunan, mengukur, membuat pola, serta berhitung dapat diungkap dari peninggalan budaya candi seperti Candi Prambanan. Inovasi pembelajaran matematika perlu terus dilakukan selaras perkembangan jaman. Salah satu cara melakukan inovasi pembelajaran matematika bagi guru matematika atau mahasiswa Pendidikan matematika adalah mempelajarai dan mengembangkan pembelajaran matematika yang berbasis etnomatematika.  Pengembangan Perangkat pembelajaran matematika berbasis etnomatematika meliputi Modul, Silabus, RPP dan LKS. Etnomatematika merupakan pendekatan pembelajaran matematika berbasis budaya lokal; oleh karena itu, di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, penelitian pengembangan etnomatematika dapat mengambil lokasi di 3 tempat yaitu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Keraton Yogyakarta. Penelitian ini melibatkan mahasiswa S2 dan S3 Pendidikan Matematika, yang meliputi keterampilan mengembangkan etnomatematika sebagai basis pembelajaran matematika sekaligus mempersiapkan penelitian payung bagi mahasiswa bersangkutan (Marsigit, 2017).

artikel seminar dapat di download disini

Semaraknya Seminar Nasional Pendidikan Matematika ETNOMATNESIA

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *